oleh

Seminar Kelayakan Disertasi, Fory Naway Di Daulat Jadi Penguji Program Doktor Ilmu Pendidikan

 

 

Limboto,- Dr. Fory Naway, kembali menguji satu kandidat doktor atas nama Mahjudin Husain, Senin ( 19/10/2020). Dalam seminar kelayakan disertasi program doktor ilmu pendidikan di Universitas Negeri Gorontalo(UNG), itu Fory Naway dipercayakan sebagai penguji internal 2.

 

Mahjudin Husain selaku teruji, membawa judul disertasi” Model Pengintegrasian Nilai- Nilai Karakter Dalam Pembelajaran Di SMP Negeri Kabupaten Gorontalo”.

 

Fory Naway hadir bersama, Penguji Dr Arwildayanto.M.Pd, Penguji 1, Promotor. Prof Dr. Sarson Ponalato, M.Pd,.Co Promotor 1 Prof.Dr. Abd Haris Panai, MPd,.Co Promotor 2 Dr. Kadir Husain,MPd.kons.

 

Dr. Fory Naway mengapresiasi judul disertasi tersebut. Menurutnya, judulnya sangatlah tepat. Karena ada empat sumber karakter yang ia gagas ,yakni, olah hati, olah pikir, olah raga dan olah karsa dan prakasa.

 

hati itu yang dimaksud, dimana anak –anak diharapkan menjadi anak-anak yang jujur,disiplin, bertaqwa, inovatif, produktif dan kreatif,” Sebut Fory

 

kemudian terkait dengan olah pikir, diharapkan anak-anak lebih cerdas,mempunyai ruang untuk bicara kritis.

 

“tidak boleh anak itu dilarang berexprolasi, karena mereka punya perkembangan kepribadian,” Kata Fory.

 

Kemudian olah raga, anak-anak diharapkan,mengarah pada seni untuk bisa melaksanakan sesuatu yang sifatnya kebersamaan,gotong royong,bersih, sehat, berpikir realitas. Karas dan prakarsa diharapkan anak-anak yang nasionalis.

 

Lanjutnya, Pendidikan karakter itu nilai-nilainya terinclude kedalam seluruh mata pelajaran yang memang diharapkan pada riset yang diuju tadi itu, melahirkan suatu model mengintegrasian nilai-nilai karakter yang masuk dalam seluruh mata pelajaran.

 

“Nah,itu jadi rujukan semua sekolah dan guru bisa memahami bentuk mata pelajaran untuk mendidik anak-anak supaya nilai karakternya ada,” Sambungnya .

Terakhir, ia mengatakan hasil riset penguji ini bagus karena semua nilai karakternya ada, kurang bagaimana guru memahaminya.

 

“Nah, kalau hasil risetnya diarahkan kemodel ,desain model yang membentuk karakter terintegrasi dengan mata pelajaran luar bisa. Karena selama ini, menurutnya krakter itu hanya karakter agama,pendidikan PPKN tapi tidak bagaimana kolaborasi seluruh mata pelajaran.

 

“Hasil risetnya bagus karena dapat membantu semua sekolah –sekolah dan bisa rujukan road model untuk sekolah. Jadi,standarisasi masuk dalam sumber nilai-nilai masuk pada standar kompetensi kelulusan dan seluruh mata pelajaran ada, tinggal mengacu saja melahirkan model pengintegrasian seperti apa,” Tutup Fory Naway.

 

Sementara itu, Mahjudin Husain selaku peserta ujian mengharapkan, dalam proses pembentukan karakter para siswa, peran guru sangat dibutuhkan, karena menurut Mahjudin, proses pembentukan karakter siswa bisa terlaksana, kalau model pembelajaran bisa mengadopsi metode-metode yang saya paparkan dihadapan para penguji.

 

” Dengan metode yang saya paparkan tadi, bisa menjadi salah satu metode dalam meminimalisir kejadian-kejadian yang ada, jadi memang untuk merubah karakter ini tidak mudah, dan tidak sama dengan membuka telapak tangan , olehnya peran guru bersama metode pembelajaran sangat penting untuk membentuk karakter para siswa,” tandasnya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed