Jakarta – Keputusan Partai NasDem menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari keanggotaan DPR RI melalui siaran pers resmi yang ditandatangani Ketua Umum Surya Paloh dan Sekjen Hermawi Taslim, menjadi perbincangan hangat publik. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang internal partai, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi para kader muda bangsa.
Menanggapi hal tersebut, Sahril Anwar Tialo, Pemuda Parlemen Indonesia 2025 yang mewakili Provinsi Gorontalo, menekankan pentingnya menjaga etika dan komunikasi politik. Ia menilai, jatuh-bangunnya seorang politisi bukan hanya soal kekuasaan, melainkan bagaimana ia mampu menjaga amanah rakyat.
“Dari kasus ini kita bisa belajar bahwa komunikasi politik dan kepekaan terhadap aspirasi masyarakat sangatlah penting. Ketika seorang politisi gagal menjaga itu, maka konsekuensinya adalah hilangnya kepercayaan, baik dari partai maupun rakyat,” ujar Sahril, Minggu (31/8).
Menurutnya, pengalaman politik nasional ini harus dijadikan refleksi oleh generasi muda yang kini mulai masuk ke gelanggang demokrasi. Pemuda, kata Sahril, tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama: abai pada suara rakyat dan menganggap enteng komunikasi politik.
“Jangan sampai kita, sebagai generasi penerus, hanya sibuk dengan pencitraan tapi lupa mendengar. Politik itu tentang amanah, dan amanah hanya bisa dijaga dengan konsistensi, kerendahan hati, serta dialog yang sehat,” tambahnya.
Forum Pemuda Parlemen Indonesia 2025 sendiri menjadi momentum bagi anak muda di seluruh daerah untuk menyampaikan gagasan serta mengasah integritas. Sahril berharap agar kasus Sahroni menjadi titik balik bagi kaum muda untuk menatap politik dengan lebih arif.
“Pemuda harus menjadikan politik sebagai ruang pengabdian, bukan ruang arogansi. Kita harus membuktikan bahwa demokrasi bisa lebih bermartabat bila dijalankan dengan komunikasi yang jujur dan menghargai aspirasi rakyat,” tegas Sahril.