Boalemo – Menjadi seorang pemimpin sering kali dipahami sebatas kemampuan memajukan sebuah instansi. Namun bagi Hariyono Bokingo, kepemimpinan justru dimaknai lebih dalam—tentang bagaimana mampu merasakan penderitaan orang-orang di sekitarnya.
Lahir pada 2 November 1982, Hariyono bukan hanya dikenal sebagai Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kabupaten Boalemo, tetapi juga sebagai sosok yang menyimpan empati besar terhadap masyarakat kecil. Di tengah kesibukannya memimpin perusahaan daerah, ia memilih untuk tetap hadir di tengah-tengah warga yang sedang berjuang dengan kerasnya kehidupan.
Bagi sebagian orang, jabatan adalah tentang kekuasaan dan pencapaian. Namun bagi Hariyono, jabatan adalah jalan untuk berbagi. Ia tak segan turun langsung menyapa masyarakat, mendengar keluh kesah mereka, bahkan membantu sebisanya—baik secara material maupun non-material.
Ada banyak cerita yang tak pernah tersorot. Tentang langkah-langkah kecilnya menyambangi warga yang kesulitan, tentang bantuan yang diberikan tanpa publikasi, hingga kepeduliannya kepada orang-orang di sekitarnya yang sering kali luput dari perhatian.
Menariknya, Hariyono bukanlah seorang politisi. Ia tidak berada di kursi kekuasaan eksekutif maupun legislatif. Namun kepedulian itu tumbuh tulus, tanpa kepentingan, tanpa panggung.
Di mata para pegawai, ia dikenal sebagai pemimpin yang baik dan sederhana. Tapi di mata masyarakat kecil, ia adalah sosok yang lebih dari sekadar direktur—ia adalah orang yang mau mendengar, merasakan, dan hadir di saat sulit.
Di tengah dunia yang sering kali terasa semakin acuh, sosok seperti Hariyono Bokingo menjadi pengingat bahwa masih ada pemimpin yang memimpin dengan hati. Bahwa di balik jabatan, ada rasa yang ikut terluka saat melihat penderitaan orang lain.






