Boalemo – Pelantikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Boalemo pada Selasa, 21 April 2026, tidak disambut dengan euforia kosong. Di tengah seremoni yang lazimnya penuh formalitas, suara kritis justru mengemuka dari kalangan anak muda. Fian Hamzah, Founder Ruang Anak Muda Connection, melontarkan peringatan terbuka kepada Sekda yang baru dilantik, Nurdin Baderan.
Bagi Fian, jabatan Sekda bukan sekadar posisi administratif dengan segudang fasilitas, melainkan titik krusial penentu arah kebijakan daerah. Ia menegaskan, tidak ada ruang untuk sekadar “belajar sambil jalan” atau berlindung di balik retorika birokrasi. Harus punya target jelas: kemiskinan di Boalemo harus ditekan dengan langkah konkret, terukur, dan berani.
Latar belakang Universitas Negeri Gorontalo yang melekat pada Prof Nurdin justru menjadi pisau bermata dua. Gelar akademik tinggi, menurut Fian, bukan jaminan keberhasilan jika tidak diterjemahkan dalam kebijakan yang membumi. “Rakyat tidak butuh teori dalam buku-buku yang dibaca oleh Prof Nurdin, Tapi rakyat butuh bukti,”
Fian secara gamblang menyebut, jika dalam waktu ke depan tidak ada terobosan signifikan—terutama dalam rangka menekan angka kemiskinan—maka legitimasi moral Sekda akan dipertanyakan. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan lahirnya gelombang kritik yang lebih keras dari masyarakat sipil.
Lebih tajam lagi, Fian mengingatkan soal potensi penyimpangan kekuasaan. Ia menegaskan bahwa jabatan strategis seperti Sekda kerap tergelincir menjadi alat akumulasi kepentingan pribadi, bupati atau wakil bupati. Jika pola lama itu kembali terulang, maka perlawanan akan menjadi keniscayaan.
“Kalau datang hanya untuk memperkaya diri, maka kami akan berdiri di depan sebagai lawan,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar letupan emosional, melainkan sinyal bahwa rakyat, khususnya generasi muda—tidak lagi pasif. Mereka mengawasi, mencatat, dan siap bereaksi. Dalam konteks ini, kepemimpinan Prof Nurdin tidak hanya diuji oleh target pembangunan, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan publik yang semakin kritis.
Pelantikan telah selesai. Seremoni telah berlalu. Kini yang tersisa adalah pertanyaan mendasar: apakah kepemimpinan baru ini mampu menjawab ultimatum tersebut, atau justru memantik perlawanan yang lebih besar di kemudian hari?






