BOALEMO — Pihak pengelola Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, memberikan klarifikasi terkait keluhan orang tua siswa mengenai ditemukannya ulat pada salah satu menu makanan yang dibagikan pada 24 Agustus 2026.
Kepala SPPG MBG Hungayonaa, Riska Sidiki, menjelaskan bahwa ulat tersebut ditemukan pada menu sayur sawi. Menurutnya, ulat yang ditemukan merupakan ulat yang berasal dari tanaman sawi dan bukan karena makanan tersebut busuk.
“Ulat tersebut terdapat di sayur sawi, bukan dari makanan yang busuk,” ujar Riska.
Ia menjelaskan, pihaknya tetap menyayangkan kejadian tersebut dan memahami kekhawatiran orang tua siswa. Karena itu, sebagai bentuk tanggung jawab, pihak pengelola menyampaikan permohonan maaf sekaligus menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi.
“Selaku SPPG, kami memohon maaf atas pelayanan masalah tersebut. Ini menjadi evaluasi bagi kami agar ke depan kualitas makanan dan pemeriksaan bahan yang digunakan lebih diperhatikan,” katanya.
Informasi Bukan Berasal dari Siswa atau Sekolah
Riska juga meluruskan mengenai informasi awal terkait temuan ulat tersebut. Menurutnya, informasi itu bukan disampaikan langsung oleh siswa maupun pihak sekolah kepada pengelola SPPG.
“Informasi tersebut awalnya justru tidak datang dari siswa maupun pihak sekolah. Informasi itu kami ketahui dari orang lain yang kemudian disampaikan kepada orang tua siswa,” jelasnya.
Dengan demikian, pihak pengelola mengaku pada awalnya tidak menerima laporan langsung dari pihak sekolah mengenai adanya temuan tersebut.
Setelah mengetahui informasi itu, pihak SPPG kemudian berupaya merespons dengan menawarkan penggantian makanan.
Namun, orang tua siswa yang menyampaikan keluhan tersebut memilih tidak menerima penggantian makanan. Menurut pihak pengelola, penyampaian tersebut memang bukan semata-mata untuk meminta penggantian, melainkan sebagai informasi dan masukan agar kualitas makanan MBG ke depan dapat lebih diperhatikan.
“Mereka tidak mau diganti. Karena yang disampaikan kepada kami memang hanya informasi, supaya ke depan kualitas makanan bisa lebih diperhatikan,” ungkap Riska.
Pihak SPPG Hungayonaa menilai masukan dari orang tua siswa tersebut tetap menjadi perhatian penting. Evaluasi akan dilakukan terutama terhadap pemeriksaan bahan baku sayuran sebelum proses pengolahan hingga makanan dikemas dan didistribusikan kepada siswa.
Riska menegaskan, pihaknya tidak menganggap remeh persoalan tersebut. Meskipun ulat yang ditemukan berada pada sayur sawi dan bukan karena makanan busuk, pemeriksaan bahan makanan tetap harus dilakukan secara lebih teliti.
“Kami menerima ini sebagai masukan dan evaluasi. Kami mohon maaf kepada orang tua siswa dan akan berusaha meningkatkan pemeriksaan agar kejadian seperti ini tidak kembali terjadi,” pungkasnya.


