BOALEMO – Ketua DPRD Boalemo, Karyawan Eka Putra Noho, memberikan penekanan khusus pada makna perayaan tradisi Ketupat yang digelar setiap tanggal 7 Syawal. Ia menegaskan bahwa momentum tersebut harus dikembalikan pada hakikat aslinya, yakni sebagai ruang untuk mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antarwarga setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Menurut Eka Putra, tradisi Ketupat di Gorontalo bukan sekadar ritual kuliner tahunan, melainkan warisan budaya yang melambangkan kebersamaan dan identitas sosial yang kuat. Oleh karena itu, kesucian nilai Idul Fitri harus tetap terjaga di dalam setiap aktivitas perayaannya agar tidak kehilangan makna spiritual.
Politisi PDI Perjuangan tersebut menegaskan bahwa kemenangan Idul Fitri jangan sampai dicederai dengan perilaku yang merusak. Ia berharap tradisi Ketupat benar-benar menjadi ajang untuk memperkuat hubungan antar sesama, bukan justru menjadi pemicu pelanggaran yang merugikan ketertiban umum.
Guna memastikan tujuan mulia tersebut tercapai, Ketua DPRD Boalemo menyerukan secara tegas agar masyarakat menjauhi segala bentuk aktivitas negatif. Ia secara khusus melarang konsumsi minuman keras, penyalahgunaan narkoba, serta penggunaan knalpot brong yang kerap mengganggu kenyamanan publik dan memicu kegaduhan di jalanan.
Selain faktor keamanan, masalah kedisiplinan berlalu lintas juga menjadi perhatian serius bagi Eka Putra. Ia mengingatkan warga untuk tidak memarkir kendaraan secara sembarangan di bahu jalan demi menghindari kemacetan parah yang sering terjadi saat puncak perayaan tradisi Ketupat.
Di akhir penyampaiannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadi pelopor dalam menciptakan suasana yang aman dan berbudaya. Menurutnya, keberlanjutan tradisi ini sangat bergantung pada kemampuan masyarakat Boalemo dalam menjaga sikap dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan serta kebersamaan di tengah keramaian.






