BOALEMO — Langkah Polres Boalemo menertibkan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Dusun Sambati, Desa Dulupi, Kecamatan Dulupi, patut diapresiasi. Namun, di balik pengamanan alat berat tersebut, muncul pertanyaan serius dari masyarakat: mengapa penertiban belum terlihat merata di seluruh wilayah yang diduga masih terdapat aktivitas PETI?
Pada 31 Agustus 2026, aparat Polres Boalemo melakukan penertiban di kawasan PETI Sambati. Dalam operasi tersebut, satu unit ekskavator berhasil diamankan dan dibawa ke Mapolres Boalemo untuk kepentingan penyelidikan. Sejumlah pemberitaan juga menyebut terdapat alat berat lain yang masih akan dievakuasi.
Namun, persoalan kemudian melebar. Sejumlah warga mempertanyakan aktivitas pertambangan di wilayah lain, termasuk Wonosari dan Tangga Barito, yang disebut masih berlangsung.
Keluhan serupa bahkan telah muncul di ruang publik. Warga mempertanyakan mengapa penertiban menyasar Sambati sementara lokasi lain yang disebut masih memiliki aktivitas PETI belum mendapatkan tindakan yang sama.
Wonosari Jadi Pertanyaan Besar
Informasi yang diterima dari masyarakat Wonosari menyebutkan, aktivitas tambang yang diduga ilegal di wilayah tersebut masih meresahkan warga.
Jika informasi tersebut benar dan ditemukan adanya aktivitas pertambangan tanpa izin, publik tentu berhak mempertanyakan konsistensi penegakan hukum Polres Boalemo.
Sebab, penegakan hukum idealnya tidak berhenti pada satu lokasi. Ketika aparat menemukan dugaan pelanggaran yang sama di wilayah berbeda, masyarakat tentu berharap standar penindakannya juga sama.
Sambati ditertibkan, lalu Wonosari bagaimana?
Pertanyaan inilah yang kini perlu dijawab secara terbuka oleh Polres Boalemo.
Bukan berarti penertiban di Sambati harus dihentikan. Justru sebaliknya, langkah tersebut semestinya menjadi pintu masuk untuk melakukan pemetaan dan penindakan terhadap seluruh lokasi PETI yang masih beroperasi di wilayah hukum Polres Boalemo.
Benarkah Ada Tebang Pilih?
Tudingan “tebang pilih” merupakan persepsi masyarakat yang perlu diverifikasi, bukan fakta yang dapat langsung disimpulkan.
Namun, persepsi tersebut tidak boleh dibiarkan tanpa penjelasan.
Apalagi sebelumnya organisasi masyarakat Garda Satu juga telah meminta Polres Boalemo melakukan penertiban secara menyeluruh terhadap aktivitas PETI di Paguyaman, Wonosari dan Dulupi serta tidak melakukan tebang pilih.
Praktisi hukum Boalemo, Buyung J. Puluhulawa, juga pernah meminta agar penertiban PETI tidak berhenti pada razia, tetapi dilanjutkan dengan proses hukum yang transparan dan diterapkan secara konsisten di seluruh wilayah hukum Polres Boalemo.
Karena itu, bola kini berada di tangan Polres Boalemo.
Apakah seluruh lokasi PETI memang sedang dalam proses pemantauan dan penyelidikan?
Apakah Wonosari sudah ditindaklanjuti berdasarkan laporan masyarakat?
Atau ada alasan hukum dan teknis tertentu sehingga penanganannya berbeda?
Publik Menunggu Jawaban Kapolres
Yang juga perlu dijelaskan adalah apakah operasi di Sambati merupakan hasil pemetaan menyeluruh terhadap aktivitas PETI atau hanya tindak lanjut laporan masyarakat di lokasi tersebut.
Sebab, jika penertiban hanya dilakukan setelah ada laporan, sementara lokasi lain yang juga dilaporkan tidak segera ditindaklanjuti, wajar jika muncul pertanyaan mengenai konsistensi penegakan hukum.
Publik tidak membutuhkan penertiban yang hanya terlihat keras di satu tempat. Publik membutuhkan kepastian bahwa hukum berlaku sama di semua tempat.
Jika di Wonosari memang ditemukan aktivitas PETI tanpa izin, masyarakat tentu berharap aparat segera turun ke lapangan dan mengambil tindakan sesuai ketentuan hukum.
Sebaliknya, jika informasi masyarakat tersebut tidak benar atau aktivitas di Wonosari memiliki status hukum berbeda, Polres Boalemo juga perlu menjelaskannya secara terbuka agar tidak berkembang menjadi spekulasi.
Satu ekskavator yang diamankan dari Sambati memang menunjukkan adanya tindakan aparat. Tetapi pekerjaan penegakan hukum belum selesai hanya karena satu alat berat berhasil dibawa ke Mapolres.
Kini pertanyaan publik sederhana: Sambati sudah ditertibkan, Wonosari kapan?
Dan yang paling penting, apakah penertiban PETI di Boalemo benar-benar akan dilakukan secara menyeluruh tanpa membedakan lokasi maupun pihak yang terlibat?



