PILKADA KABGOR DAN PESONA SANG PETAHANA

Politik221 Dilihat

 

Gorontalo,- Sekitar setahun sebelum Pilkada 2020, Nelson Pomalingo sudah memancarkan aura dan pesona yang mewarnai dinamika perpolitikan di Kab. Gorontalo. Januari 2020 misalnya, H. Toni Yunus, calon Bupati Nomor urut 1, kepada media massa mengakui, bahwa di era kepemimpinan Nelson, Kab. Gorontalo mengalami perkembangan, kemajuan dan perubahan yang signifikan. Jejak digital terhadap pernyataan itu ada dan tidak akan terhapus dari memori publik. Pernyataan itu dinilai tulus dan apa adanya, karena mungkin Toni Yunus ketika itu belum terlintas untuk maju sebagai calon Bupati.

 

Pesona lainnya, setahun menjelang Pilkada, justru prediksi yang sempat muncul adalah Petahana bakal melawan “Kotak Kosong”. Hal itu terjadi, karena yang ramai bermunculan ketika itu bukan bakal calon Bupati, tapi bakal calon Wakil Bupati yang kesemuanya berminat dan melamar menjadi Wakil Bupatinya Nelson Pomalingo.

Diantaranya Diky Gobel yang kini menjadi calon Wakil Bupati Nomor urut 4. Demikian juga dengan Tomi Ishak yang kini menjadi Wakil Bupati Nomor urut 3. Kedua figur ini bahkan masuk dalam rekomendasi PPP Kab. Gorontalo yang diusulkan ke DPP PPP bersama Hendra Hemeto.

 

Hal itu mengindikasikan, bahwa semua calon yang menjadi rival Nelson Pomalingo pada Pilkada kali ini, secara tersirat semuanya mengakui keberhasilan kepemimpinan dan pemerintahan periode pertama sang petahana.

 

Itulah sebabnya, jika ada tim sukses dari 3 calon yang menjadi rival Nelson dan Hendra Hemeto yang mencoba melempar opini, bahwa Nelson gagal memimpin Kab. Gorontalo periode pertama, sangat kontradiktif dengan perspektif para calon yang mereka dukung. Buktinya, semua calon pernah melamar dan optimis menang meraih suara terbanyak, jika berpasangan dengan Nelson sebagai petahana. Logika berpikirnya sederhana, jika Nelson gagal pada periode pertama, tidak mungkin mereka melamar menjadi Wakil Bupatinya Nelson.

 

Faktor yang juga turut berpengaruh adalah fenomena munculnya “akun-akun palsu”, maupun Tim Sukses dan pendukung para calon lainnya di Medsos yang terkesan hanya dirancang untuk “mencounter” dan “mematahakan” paparan visi-misi maupun sosialisasi keberhasilan kepemimpinan dan pemerintahan Nelson periode pertama. Disisi lain, mereka seakan tidak mengenal secara lebih mendalam “performance”, prestasi, jejak kiprah dan kelebihan calon yang mereka dukung untuk disosialisasikan ke khalayak publik. Mereka seakan “terjebak” pada ruang lingkup yang sempit sehingga membuat calon yang mereka dukung, tidak memancarkan aura dari sisi yang lain. Padahal tebar pesona lewat foto baliho dan banner dengan stigma-stigma yang kaku tidaklah cukup.

 

Akhirnya kesan yang muncul, mereka seakan berada dalam ruang-ruang kegelapan yang justru menjadikan sang petahana semakin bersinar memancarkan pesona sebagai calon Bupati yang berkualitas. Ketika tim sukses nomor 2 Nelson-Hendra, mensosialisasikan prestasi, jejak kiprah Nelson, terobosan, capaian kinerja beserta visi-misinya, sejatinya semua itu harus diimbangi oleh penyampaian prestasi dan visi-misi calon yang mereka dukung, bukan nyinyiran, hasutan apalagi fitnah. Akhirnya, momentum kampanye dan Pilkada, yang semestinya menjadi ajang diskusi yang konstruktif, mencerahkan dan mencerdaskan belum sepenuhnya menggejala.

 

Pesona sang petahana lainnya, tercermin dari kematangann Nelson dalam berpikir, bertindak dan mengendalikan emosinya. Meski ia dihujat, difitnah dan dicari-cari kesalahannya, Ia tetap tenang dan tidak mudah terpancing. Sang Deklarator Provinsi Gorontalo ini, pernah suatu ketika menuturkan, “Jika kita menanam padi, sudah pasti akan tumbuh rumput, tapi jika menanam rumput jangan harap akan tumbuh padi”, maka berbuat baiklah, sepanjang itu untuk orang banyak. Karena sebaik apapun yang kita lakukan, tetap ada-ada saja yang salah di mata orang lain. Kita hidup bukan untuk memuaskan semua orang, tapi berbuat baik untuk banyak orang.

 

Bagi calon Bupati satu-satunya Alumni LEMHANAS RI ini, perjuangan tidak akan pernah berakhir, tidak pernah berhenti dan tidak akan lekang digilas oleh waktu. Itulah yang disebut perjuangan yang tak berujung. “Menjadi sukses itu bukanlah kewajiban yang menjadi kewajiban adalah perjuangan untuk menjadi sukses”. (AM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *