Saat Reses, Dapil VI Deprov Gorontalo Kunjungi Kampung Nelayan Patoameme

BOALEMO,SHARENEWS.ID – Tim Reses DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan (Dapil) VI Kabupaten Boalemo dan Pohuwato meminta pelaksana proyek mempercepat pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Patoameme, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Permintaan itu disampaikan setelah tim reses menemukan progres pembangunan di lokasi tersebut baru mencapai sekitar 27 persen saat melakukan peninjauan lapangan, Senin (2/11/2026).

Padahal, proyek yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut memiliki masa pelaksanaan 135 hari kalender sejak kontrak ditandatangani pada 17 Juli 2026.

Berdasarkan papan informasi proyek, pembangunan KNMP dilaksanakan oleh PT Kelman Infra Perkasa dengan nilai kontrak keseluruhan sebesar Rp14,448 miliar. Pekerjaan tersebar di empat lokasi, yakni Desa Bilato di Kabupaten Gorontalo serta Desa Girisa, Tabongo, dan Patoameme di Kabupaten Boalemo.

Dalam pemaparan kepada tim reses, Ferdi, perwakilan pelaksana proyek PT Kelman Infra Perkasa, menjelaskan bahwa rendahnya progres pembangunan di Patoameme dipengaruhi persoalan kesiapan lahan.

Menurut dia, lokasi awal pembangunan masih terdapat pohon kelapa sehingga diperlukan penyesuaian dan pergeseran lokasi sebelum pekerjaan fisik dapat dilaksanakan.

Kendala serupa juga terjadi di sejumlah lokasi lain. Di Desa Bilato, misalnya, proses serah terima lahan baru dilakukan pada 3 September 2026, meskipun Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) telah diterbitkan pada 24 Juli 2026. Sementara itu, proses penyelesaian lahan atau clear and clean baru rampung pada 9 Oktober 2026.

Adapun di Desa Tabongo dan Girisa, pekerjaan terkendala keberadaan bangunan eksisting Tempat Pelelangan Ikan (TPI) serta persoalan kesiapan lahan.

Meski demikian, pihak pelaksana menargetkan progres pembangunan di Patoameme dapat mencapai 90 persen pada akhir Desember 2026. Target tersebut khusus untuk lokasi Patoameme, bukan akumulasi pekerjaan di empat lokasi.

Untuk mengejar target tersebut, pelaksana akan memprioritaskan pekerjaan dengan bobot besar, seperti pembangunan dinding penahan tanah (DPT), tambatan perahu, dan jalan kawasan.

Pembangunan DPT memiliki bobot sekitar 10–13 persen, tambatan perahu sekitar 25–30 persen, sedangkan pekerjaan jalan kawasan mencapai sekitar 18 persen.

Menanggapi penjelasan tersebut, Ketua Tim Reses, I Wayan Sudiarta, menilai progres pembangunan masih jauh dari target waktu pelaksanaan.

Menurut dia, pekerjaan yang telah dimulai sejak Juli 2026 seharusnya menunjukkan perkembangan fisik yang lebih signifikan saat memasuki November.

Tim reses meminta kontraktor menambah tenaga kerja, menerapkan sistem kerja lembur, serta mengerjakan beberapa item pekerjaan secara bersamaan untuk mempercepat penyelesaian proyek.

I Wayan juga meminta pekerjaan dengan bobot besar, terutama jalan kawasan dan fasilitas pendukung, segera diprioritaskan agar sisa waktu pelaksanaan dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Tim reses menyatakan akan melakukan evaluasi lanjutan pada November 2026 untuk memantau perkembangan pekerjaan sekaligus mengidentifikasi kendala yang membutuhkan koordinasi dengan penyelenggara proyek dan instansi terkait.

Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih diharapkan dapat menyediakan sarana dan prasarana perikanan yang memadai, mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan di Kabupaten Boalemo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *