Bone Bolango, Sharenews.id — Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango mencatat 471 kasus baru Tuberkulosis (TBC) sepanjang 2026 hingga awal September.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango Meyirin Kadir mengungkapkan data tersebut saat menyampaikan laporan kegiatan tracking dan penanggulangan TBC. Meyirin menyampaikan laporan itu di Desa Poowo Barat, Selasa (1/9/2026).
Dinas Kesehatan mencatat 833 kasus baru TBC pada 2025, lebih tinggi dibanding tahun ini. Wilayah kerja Puskesmas Tombulilato mencatat temuan tertinggi pada 2025 dengan 65 kasus.
Puskesmas Kabila mencatat 42 kasus pada tahun yang sama. Kelurahan Pauwo menjadi wilayah dengan temuan tertinggi di area kerja puskesmas tersebut.
Dinas Kesehatan menemukan 471 kasus baru hingga kegiatan tracking di Desa Poowo Barat berlangsung pada 2026. Wilayah kerja Puskesmas Suwawa Tengah mencatat temuan tertinggi dengan 24 kasus.
Wilayah kerja Puskesmas Kabila menyusul dengan 18 kasus temuan baru. Dinas Kesehatan bersama jajaran Puskesmas menjalankan pola skrining aktif untuk mengejar penemuan kasus sejak dini.
Petugas mendatangi masyarakat dan memeriksa warga yang memiliki indikasi maupun risiko TBC. “Dinas Kesehatan dan Puskesmas aktif melakukan skrining langsung ke masyarakat agar kasus TBC terdeteksi dini dan segera diobati,” kata Meyirin.
Dinas Kesehatan mengalokasikan 47 lokus untuk kegiatan tracking TBC. Kegiatan itu diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis.
Tim telah menyelesaikan 17 lokus dari 18 lokus yang dikunjungi. Program itu menjangkau 696 sasaran masyarakat.
Sebanyak 314 orang dari sasaran itu masuk kategori terduga TBC dan telah menjalani pemeriksaan. Hasil pemeriksaan menemukan 33 kasus TBC aktif.
Pemerintah Kabupaten Bone Bolango mendorong keterlibatan masyarakat melalui pembentukan Desa Siaga Aktif TBC. Pemerintah telah membentuk 13 Desa Siaga Aktif TBC hingga saat ini.
Desa tersebut meliputi Tingkohubu, Berlian, Mopuya, Inomata, Bongoime, Talumopatu, dan Talulobutu. Desa itu juga mencakup Keramat, Meranti, Dunggala, Langge, dan Bangoio.
Pembentukan desa siaga itu memperkuat penemuan kasus sejak dini dan pendampingan pasien. Program itu turut meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penularan TBC.
Meyirin mengakui program tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan. Stigma terhadap penderita TBC membuat sebagian warga enggan menjalani pemeriksaan meski pemerintah desa telah memberikan dukungan transportasi.
Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan menjadi persoalan lain yang ditemukan. Sebagian pasien terduga maupun positif TBC tidak mengonsumsi obat secara rutin hingga pengobatan tuntas.
Kondisi itu berpotensi memperpanjang mata rantai penularan di tengah masyarakat. Satu pasien positif TBC yang tidak tertangani baik berpotensi menularkan penyakit kepada sekitar 10 kontak erat.
Meyirin menegaskan keberhasilan penanggulangan TBC tidak cukup hanya dengan menemukan kasus. Pasien yang terdeteksi harus menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.
Program tracking dan penanggulangan TBC di Bone Bolango mendapat dukungan alokasi anggaran penuh dari Kementerian Kesehatan RI. Meyirin menyampaikan apresiasi kepada Bupati Bone Bolango dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bone Bolango atas dukungan terhadap inovasi Gerakan Ruwaida.
Meyirin menyebut kolaborasi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, PKK, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci penanganan TBC. Kolaborasi itu mempercepat penemuan kasus sekaligus memastikan pasien menjalani pengobatan hingga selesai.
“Dengan skrining aktif dan dukungan seluruh pihak, kita berharap kasus TBC dapat ditemukan lebih dini, segera diobati, dan mata rantai penularannya dapat diputus,” Tutupnya






